jam

Kamis, 12 Januari 2012

materi pai

SALAMULLAH


1.    Latar Belakang

Salamullah adalah nama yang diberikan oleh Malaikat Jibril
yang artinya Salam dan Keselamatan dari Allah. Jejak Salamullah dapat ditelusuri dari pengalaman Lia Aminuddin (sekarang disebut Bunda Lia Eden) yang terbuka kekasyafannya pada 28 Oktober 1995. Sejak itu, Bunda Lia dapat berkomunikasi dengan pendamping gaib yang memperkenalkan dirinya dengan nama Habib Al Huda.
 Pada awal perkenalan itu, Habib Al Huda dianggap sebagai jin muslim yang dulu juga pernah mendampingi Nabi Muhammad sebagaimana tercantum dalam buku “Dialog dengan Jin Muslim” yang sedang marak dibaca pada waktu itu. Namun, pendamping gaib Bunda Lia tersebut kemudian menyatakan dirinya sebagai seorang malaikat yang memang dulu mendampingi Rasulullah. Bahkan dia menyatakan bahwa penjelasan di dalam buku “Dialog dengan Jin Muslim” itu salah. Seorang Rasulullah tak mungkin diperkenankan Allah dibimbing oleh jin. Menurut Habib Al Huda, buku itu hanya mementingkan daya jual, tak mementingkan ketelitian dan keakuratan atas apa-apa yang dituliskan didalamnya.Sesungguhnya, perkenalan pertama sebagai Habib Al Huda adalah sebuah perumpamaan dan penyesuaian atas kesiapan Bunda Lia menerima pendampingan malaikat.
Lia dan jamaahnya selalu menyajikan sesuatu yang tak terduga dan menyentak. Mula-mula, pada 1997, Lia mengaku mendapat wahyu dari malaikat Jibril. Kemudian, pada 18 Agustus 1998, ia memaklumatkan diri dibaiat Jibril sebagai Imam Mahdi. Diumumkannya pula bahwa anaknya, Ahmad Mukti, dibaiat sebagai Nabi Isa. Pengakuan Lia yang kontroversial itu dituangkannya dalam buku Perkenankan Aku Menjelaskan Sebuah Takdir (selanjutnya disingkat PAMST).
 Bagaimana Lia Aminuddin sampai “bertemu dengan Jibril”, dan akhirnya menghimpun Salamullah? Syahdan, semua itu dimulai dari sebuah benda bercahaya kuning yang, kata Lia, muncul, berputar, lalu lenyap persis di atas kepalanya. Itu terjadi di suatu malam, tahun 1974. Di malam sepi itu, Lia sedang duduk santai bersama Dokter Rosmini, adik iparnya, di rumahnya di Jalan Mahoni 30, Jakarta Pusat. Kala itu, Lia seorang ibu rumah tangga biasa, tak begitu memedulikan selain merasa takjub.


2.    Tokoh dibalik Salamullah

Lia mulanya memang perempuan biasa. Tak ada keajaiban pada dirinya. Ibu empat anak ini lahir 21 Agustus 1947 di Makassar, Sulawesi Selatan. Ia anak kedua dari enam bersaudara pasangan Abdul Ghaffar Gustaman dan Zainab. Sang ayah berlatar belakang Muhammadiyah, dikenal sebagai pedagang sekaligus penceramah. Tapi, Lia tak pandai mengaji. Perempuan tamatan SMU ini mengaku terus terang bahwa pengetahuan agamanya tak lengkap.
Pada usia 19 tahun, Juni 1966, Lia disunting Ir. Aminuddin Day, MSc, belakangan dosen Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Pasangan ini dikaruniai empat anak. Sebagai ibu rumah tangga modern, Lia banyak beraktivitas di luar rumah sebagai perangkai bunga kering. Ia kerap tampil di televisi memperagakan kemahirannya itu, sehingga namanya dikenal masyarakat. Sebagai pimpinan Salamullah yang awalnya bernapaskan Islam, Lia Aminuddin selalu mengenakan kerudung putih. Dalam setiap kesempatan, ibu empat anak itu tak pernah alpa berkerudung warna kapas, dan menutup auratnya dengan busana muslim warna senada.
Itu dulu. Namun, sejak beberapa waktu lalu, kerudung tadi tinggal kenangan. Penutup kepala itu sudah tersimpan di lemari. Lia, 56 tahun, telah menanggalkannya.  Dan yang pasti, Lia kini meretas jalan baru, yaitu spiritual perenial. Artinya, Lia tak lagi menganut Islam secara formal.

3.    Ajaran- ajaran Salamullah

Ajaran atau seruan yang dilakukan oleh Lia benar- benar tidak masuk akal sebagai contoh pada bulan April 2001, Lia dan Salamullah kembali bikin heboh besar. Mereka mengadakan ritual penyucian diri melalui api. Kepada pengikut setianya, ia mengeluarkan maklumat yang terdengar aneh: “Syekh menyampaikan perintah Allah untuk menggunduli rambut dan membakar sekujur tubuh kita.” Syekh adalah sebutan untuk malaikat Jibril yang diyakini Lia. Ritual penyucian api itu berlangsung 22 April 2001, di Vila Bukit Zaitun, Megamendung, Puncak, Jawa Barat, tempat aktivitas jamaah kala itu dipusatkan.
Kejutan berikutnya, sebagian jamaah Salamullah tak lagi menjalankan syariat Islam, meski tetap mengedepankan zikir dan kebaikan universal. Sikap itu mereka percayai sebagai pelaksanaan petunjuk Jibril yang membawa pesan Allah. “Salah satu yang diperingatkan Allah kepada manusia saat ini adalah cara beragama. Umat beragama rajin beribadah ritual, tapi itu tak berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, Lia aktif melakukan berbagai manuver. Ia mengobarkan perang terhadap Dajal di Tanah Air. Pada 22 Agustus 1999, misalnya, ia dan jamaahnya menyatakan perang terhadap ratu lelembut Nyi Roro Kidul, di Pantai Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Para dukun dan tukang santet juga diperangi karena dianggap musyrik. Lia juga memusnahkan aneka benda sakti yang dianggap syirik. Yaitu tongkat –termasuk “tongkat Bung Karno”– keris, jimat, batu cincin, sesajen, serta buku dan majalah “sesat”. Buntutnya, Lia sempat berurusan dengan pengadilan lantaran pemilik “tongkat Soekarno” tak bisa menerima perbuatannya. Lia tak gentar. “Jibril yang minta tongkat itu dimusnahkan,” kata Lia.
 Pada 24 Juni 2000, Lia menyatakan Salamullah sebagai agama baru. Ajaran pokoknya tetap meyakini Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir. Tak ada nabi baru setelah Muhammad. Menurut ajaran itu, yang ada adalah kebangkitan kembali Nabi Isa, Imam Mahdi, dan roh orang-orang suci. Adapun kitab sucinya, yang masih terus disempurnakan, adalah Al-Hira. Tapi, sejauh itu, para jamaah Salamullah masih menjalankan salat sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad.
 Tentu agama baru tadi sempat membuat masyarakat, utamanya muslim, terkejut. Tapi, kejutan lebih besar menggema manakala Lia menggelar ritual penyucian api, 22 April 2001, di Vila Bukit Zaitun, Puncak. Lia dan jamaahnya bertelanjang bulat menembus kobaran api, setelah seluruh bulu dan rambut di tubuh mereka digunduli. Mereka yakin, ritual itu merupakan “hisab” (perhitungan Allah) untuk membersihkan diri dari segala dosa.
Lia meyakinkan pada jamaahnya bahwa setelah itu mereka seakan terlahir kembali bak bayi tanpa dosa. Toh, ada dua jamaah yang tak diikutsertakan dalam ritual, sesuai dengan petunjuk Jibril. Soalnya, demikian menurut Jibril seperti disampaikan Lia, kedua orang itu masih berlumur dosa sehingga dikhawatirkan api akan menggosongkan tubuhnya. Setelah menganut spiritual perenial, Salamullah melakukan Lawatan Tauhid selama 34 hari, 27 Juli-awal September lalu, ke tempat-tempat kemusyrikan di Jawa dan Bali. Perjalanan ini terkait dengan inti ajaran Salamullah, yaitu ketauhidan. Tidak musyrik dan menyekutukan-Nya. Sebanyak 34 jamaah berkonvoi dengan mobil, mendatangi makam Wali Songo dan tempat pertapaan Parangkusumo di Yogya, Kesultanan Yogya dan Solo, makam Bung Karno, serta pertapaan Gunung Kawi, Jawa Timur. Pesantren pun tak luput dikunjungi. Mereka punya alasan khusus mendatangi tempat-tempat tersebut.



4.    Analisis

Tiadalah sama kerasulan dahulu dan kerasulan di akhir zaman ini. Kala dulu, manusia yang dipilih Tuhan sebagai Nabi dan Rasul menjadi figur sentral pengutusan. Di akhir zaman ini, sentral pengutusan Tuhan adalah malaikat yang dapat berada di mana pun dan menjadi apapun untuk membawakan kehendak Tuhan. Pada era Nabi, Manakala umat manusia telah menyimpang dari ketentuan Allah dengan menyekutukan-Nya dan berbuat angkara murka di bumi-Nya, maka saat itulah Allah memilih salah seorang dari hamba-Nya untuk menerima Wahyu-Nya.
 Sungguh tak ada pengajaran ketauhidan sebaik yang diajarkan dan dicontohkan para nabi kepada kita. Sepanjang zaman para nabi itu menyeru kaumnya agar mengesakan Allah. Sedangkan Jibril senantiasa menjadi pesuruh Allah, menemani, menuntun para Nabi itu di dalam tugasnya mengemban amanah Allah. Dan tiadalah Allah mengutus Jibril kepada hamba hamba-Nya melainkan untuk memperingatkan umat manusia agar bertakwa dan hanya menyembah kepada Allah SWT.
Sebagai contoh Allah pernah menguji Ibrahim untuk menyembelih salah satu dari kedua anaknya yang sangat dicintainya. Adakah cinta kepada anaknya melebihi kesetiaan dan ketaatannya kepada Allah? Sungguh Ibrahim adalah orang yang sangat lembut hatinya namun dia adalah orang yang sangat setia kepada Tuhannya. Dia bersedia mengorbankan anaknya demi kesetiaannya kepada Tuhannya. Namun Allah menggantikan anak yang akan disembelihnya dengan seekor domba.
Demikianlah dicontohkah kepada kita ketauhidan yang hakiki. Ketauhidan yang tidak hanya sekedar mengakui keesaan Allah semata melainkan meluruhkan segala keinginan di dalam kehendak Allah semata. Demikianlah Tuhan menjadikan Musa, Isa dan Muhammad serta para nabi yang lainnya menjadi contoh teladan kehidupan yang meluruh dalam kehendak Tuhan semata (Tauhid). Sungguh para nabi itu telah memberikan contoh yang nyata dan lugas kepada kita semua tentang bagaimanakah seharusnya manusia itu menjalani kehidupannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar